Saturday, February 28, 2026

Georgetown, Pulau Pinang



setelah Singapura, kota yang saya suka banget nomor 2 adalah Georgetown. kemudian ada Kuala Lumpur, Hong Kong & Osaka. saya tidak terlalu suka Tokyo. tetapi untuk Sapporo, saya suka. yah siapa sih, yang ngga' suka Hokaiddo? :)

 Georgetown, ibukota Negeri Pulau Pinang ini begitu apa adanya, tetapi ngga' pernah terasa biasa-biasa saja. Georgetown tidak berusaha menjadi Singapura, tapi gimana yah, Georgetown tuh effortlessly beautiful gitu lho. it's like, apa yang mereka bisa bangun, ya dibangun. apa yang mereka bisa preserve, ya di-preserve. apa yang sudah bagus, ya dijaga sama sama. 

jadilah Georgetown ini makanannya mantep, kotanya cakep, ke mana mana deket. 

Georgetown nih yah kalo ibaratnya cowok, dia tuh semacam cowok ganteng, well-groomedexpert & professional di pekerjaannya, well-spoken di lebih dari satu bahasa, speak perfect english, punya strong leadership aura, dan kalo dia lagi fokus, bener bener dah menguar itu aura ngga' bisa diabaikan. 

tapi, banyak orang ngga' tau kalo dia tuh orangnya lembut, pemalu & introvert banget. dia juga humoris. jadilah ketika dia bekerja, he makes everyone comfortable without even trying. in another hand, everybody put respect on him. 

iya, iya. ini saya lagi ngomongin seseorang. 

ya gimana dong, saya kan ngga' bisa mengabaikan! emang kalo cowok ganteng and speak the perfect english tuh kegantengannya langsung naik beberapa kali lipat. 


selain people-watching di airport (yang mana ini adalah agenda wajib saya yang paling saya suka setiap traveling di luar Indonesia, karena kalo di Airport di Indonesia saya selalu buru buru cari Private Lounge dan langsung tidur), apa sajakah kegiatan itu itu saja yang saya lakukan berkali kali di Georgetown yang cakep ini? 

BANYAK. 

terutama dan paling utama adalah : naik Bus Rapid Penang No. 101 jurusan Jetty - Teluk Bahang! Pulangnya? naik Bus Rapid Penang No. 102 jurusan Teluk Bahang - Airport :)))

gimana caranya? 

jadi, habis landing saya akan segera ke hotel untuk urus check-in, kalau bisa early check-in, it would be nice. tapi kalo engga' ya biasanya saya cuma drop baggage dan kurang-kurangin barang di dalam tote bag. kemudian, saya akan langsung cari makan, atau makan makanan yang udah saya tapaw di pesawat. tentu saja saya akan makan setelah saya puas foto-fotoin in-flight meal yang berasal dari galley itu. nah, setelah makan apa? tentu aja cari kopi! 

saya akan langsung ke Jo Gourmand naik Grab untuk beli kopi manis dengan coconut milk yang bahkan saya lupa namanya itu seharga RM 15. kemudian, saya akan langsung ke Komtar untuk membeli Rapid Passport dan menunggu sampai Bus No. 101 datang.  

ketika bus datang, saya hanya perlu menunjukan kartu Rapid Passport saya kepada bus captain, kemudian saya langsung mencari kursi di dekat jendela sebelah kanan, dengan begitu saya akan mendapat undisturbed scenic view di sepanjang perjalanan. 

saya suka ketika bus sudah memasuki area Pulau Tikus - Gurney Bay, di mana residential building di pinggir laut dengan konsep hunian vertikal tersebar di seluruh area. ketika bus mulai meninggalkan Tanjung Bungah, jalan aspal berkelok dengan pemandangan laut, pasir putih dan batu batu besar di sebelah kanan sayalah yang saya lihatin di sepanjang jalan sambil senyum-senyum. 

jika saya ingin main di pantai, saya akan ke Starbucks Batu Ferringhi. tapi kalo engga' yaaa saya akan turun di halte, dan naik bus 101 arah sebaliknya dan turun lagi di Komtar atau naik bus 102 dan lanjut bengong + cari makan di airport :)


kalo saya lagi pengen jalan kaki, saya akan menuju daerah sekitaran Armenian Street, sekalian saya masukin uang ke kotak di masjid Nagore Dargah Sheriff. kemudian, saya akan muter muter di area tersebut, dan kalo capek ya tinggal masuk ke salah satu tea house. jadi, dalam sekali kunjungan saya bisa muterin daerah ini lebih dari sehari HAHAHAHA 

sama seperti ketika saya ke Gurney Paragon. hari pertama saya ke driving range yang ada di dalam mall tersebut, kemudian besoknya saya akan ke sini lagi buat beli buku. atau ya tapaw makanan/snack halal untuk saya makan sambil duduk duduk di Gurney Bay Park. kalo langit lagi bagus, biasanya senja di sini langitnya ungu pink merona indah + bonus plane spotting! bayangkan, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? 

aduduuu 
AvGeek Girl ini tuh ngga' bisaaaaa sehari aja ngga' liat pesawat kalo lagi di Georgetown :)

in short, Georgetown tuh kayak selalu tau apa yang saya mau, apa yang saya suka dan gimana caranya untuk bikin saya ngga' lupa kalo saya tuh ngga' papa banget untuk jadi diri saya sendiri. feel di Georgetown ini tuh kayak waktu saya di Hong Kong, cuma ya dengan panasnya khatulistiwa aja gitu. jadi yah becandaan saya sama Faizah Penang ini Bali versi Syari'ah, Hong Kong versi Mualaf. 

ihihihihi.

in Georgetown, it's like for everything.. i don't need to hurry, i don't need to be worried, and i don't need to be sorry. saya bisa cuma duduk bengong selama 3 jam di sebuah coffee shop tanpa pegang HP. hanya dengan buku catatan dan alat tulis. saya bisa ke P.66 cuma buat beli 1 biji pulpen dan 1 buah notebook dan rasanya seneng banget. atau saya ke Gurney Paragon cuma untuk beli 1 biji pisau, atau saya ke Gurney Plaza cuma buat beli sepasang sarung bantal tencel. saya bisa makan 3x sehari di Nasi Kandar Pelita dan ngga' bosan. 

in Georgetown, just for a while, life feels.. lighter.


 dan entah ada apa dengan saya dan penerbangan rute Penang - Kuala Lumpur bersama maskapai merah itu, seperti selalu ada sesuatu yang berbeda di dalam cabin-nya. suasana dan atmosfer yang berbeda, yang tidak bisa saya pahami dengan logika. but in a good way itu membuat penerbangan-penerbangan saya setelahnya tidak pernah lagi sama. 

ada keheningan yang tidak dingin, ada kesederhanaan yang tidak terasa murah. rasanya seolah langit di jalur itu menyimpan ruang jeda yang saya butuhkan tanpa pernah saya minta. 

in a very unique way.. it's like lower the temperature, so it's below overwhelm. and it makes me in power again, and it make me can create magic again. 

dan setiap saya mengingat penerbangan-penerbangan itu, saya langsung tersenyum. tanpa bisa saya cegah, tanpa saya tau alasannya. aneh ya, bagaimana sebuah cabin pesawat bisa menjadi ruang reset yang begitu personal. 

Mungkin bukan tentang destinasi, mungkin bukan tentang traveling itu sendiri. mungkin.. ini tentang versi diri saya yang hanya muncul di kota ini—yang lebih ringan, yang lebih jujur, yang lebih pulang.





Saturday, 28 February 2026
XOXO, 



Fatimah.









Friday, February 27, 2026

Niko Neko Matcha 2.0 / Chinatown, Kuala Lumpur


hari itu Kuala Lumpur lagi ngga' panas-panas banget dan cuaca siang itu juga sedang tidak labil. saya sudah antisipasi sih sama Faizah kalo cuaca Kuala Lumpur yang emang terkenal labil itu bikin kita pusing, kita ke mall aja. 

ngga' usah ke taman, ngga' usah ke CT (Chinatown) dan ngga' usah ngide foto foto outdoor. cukup ke Eslite, atau ke BookXcess, dan kemudian duduk sampe bego di coffee shop sambil baca buku.

tapi Alhamdulillah hari itu cuaca cukup bagus. jadi, dari stasiun MRT Pasar Seni, kami cukup berjalan kaki menuju Niko Neko yang terletak di Jl. Tun H S Lee No. 181. 

Niko Neko Matcha 2.0 / Chinatown terletak di sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, dengan panjang antrian yang tidak sampai bikin kami memutuskan untuk undur diri. (keputusan undur diri karena liat antrian ini biasa terjadi di MUJI Vivo City Singapura, btw

kami harus menunggu sampai ada tempat kosong di dalam, kemudian kami akan dipersilahkan masuk. Alhamdulillah kami tidak perlu menunggu terlalu lama karena sudah ada tempat kosong yang bisa diisi oleh 2 orang. 

di Bontang, kota tempat di mana saya tinggal, tidak ada Matcha House/Tea House yang bisa saya kunjungi sebagai third place/tempat saya bisa bersembunyi sebentar untuk decompressed, tempat di mana saya bisa mengatur emosi saya sendiri agar tidak menyebar kepada orang-orang yang saya sayang yang ada di dalam rumah. 

Matcha Latte dengan grade Ceremonial di Bontang dijual dengan sistem on demand/delivery, yang selain harganya bikin saya kaget (dan tertera dalam rupiah) untuk segelas minuman, saya harus minum di kantor/di rumah. karena yah emang mau dikirim ke alamat mana yekan.

di dalam interior yang sangat clean dan presisi itu kami berdua didampingi dan duduk di tempat yang dipersilahkan, kemudian dipandu dengan sabar untuk melakukan pemesanan. tidak ada suara dari mesin ratusan juta khas coffee shop, tidak ada suara keras dari pembicaraan yang berasal dari orang orang yang hadir di sana, dan tidak ada pemandangan yang paling menarik selain meja bar yang berukuran cukup besar di mana beberapa artisan sibuk dengan electric whiskchasen bambu masing-masing. semuanya sibuk membuat berbagai minuman hijau yang dipesan tanpa henti. 

ruangan yang didominasi warna putih itu juga memiliki sebuah rak yang tidak terlalu besar di dekat pintu keluar, yang berisi barang barang terkait minuman yang terasa sangat celestal ini. seperti Matcha Powder dalam berbagai ukuran, Bamboo Chasen, Mug, Tumbler & tentu saja ; Electric Whisk yang masih saya incer. 

hari itu, saya memesan Ajisai / Matcha Latte dengan Oat Milk, with iced, seharga RM 14. 

ternyata, harus lewat imigrasi dulu untuk bisa dapet Matcha Latte grade Ceremonial dengan harga yang masuk akal. 


Niko Neko Matcha memiliki 3 jenis milk yang bisa dipilih : fresh, soy & oat. boleh pilih juga mau disajikan dengan hot/iced. dan semua menu yang ada di sini dijual dengan harga paling mahal RM 19.

untuk experience semahal itu, saya cukup kaget Niko Neko membandrol harga semurah itu. 

selalu ada sister/brother yang sedang tidak berada di balik meja bar, dan mereka dengan senang hati memberi jawaban jika kita memiliki pertanyaan terkait Matcha. and yes, they speak the perfect english. 

saya memutuskan untuk bertanya banyak tentang how to whisk matcha, how to make Matcha like them, because i never learn about Matcha properly mengigat basic saya untuk bikin minuman itu adalah barista skills, bukan Matcha Artisan. 

dan saya juga sudah mulai jengkel uang jajan harian saya banyak habis buat beli Matcha on Demand yang hampir selalu saya minum di kantor itu.

she smile, very genuine smile. and she answer every questions patiently. 
every.single.question. 
 and to wrapping up.. she told me, 
"do what feels comfortable to you - about the ratio, about the technique, and the recipe. and of course, you have to make sure that you love the taste of your own Matcha Latte"
i'm freezing for a while.
 it just.. wow. 

di social media, terlalu banyak content video tentang Matcha, semua video itu aesthetic, tetapi terlalu sulit untuk saya pahami. but at that moment, i realize that she told me the very basic term ; yang penting saya nyaman bikin Matcha-nya, yang penting rasa Matcha saya enak dan saya suka sama rasanya. because Matcha is the kind of beverage that i saved for my ownself, bahkan di Cafe Santai saya ngga' jual Matcha karena di sana jurusannya kopi Nanyang, kaya toast sama pisang goreng. 

sejak tahun lalu, saya udah ngga' minum fresh milk lagi, dan sejak saya sudah sangat sangat kurang tidur (because of consulting peak season workload, of course) saya udah ngga' minum kopi lagi setiap pagi. so the only caffeine intake that i consume is just Matcha. less drama, no more sleepless night, diminum setelah jam makan siang. di kantor. #Tetep

bagi saya, Matcha Latte dengan grade ceremonial, yang saya tambahkan sedikit rasa vanilla, di-whisk dengan metode cold whisk & menggunakan electric whick, bukanlah sekedar minuman. ia adalah ruang hening yang bisa saya minum.

dan dengan cara yang aneh, ia hadir dengan warna hijau yang tidak perlu berteriak, dan tidak perlu meminta izin untuk mendapat perhatian. seperti sebuah karakter yang matang ; lembut di permukaan, tegas di struktur. 

and yes, i made my own structure for my own Matcha Latte. 

saya menyukai Matcha dengan rasio presisi tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit. kadang saya menambahkan beberapa mililiter espresso untuk mendapatkan structure rasa yang lebih firm. 

dengan tetap menggunakan oat milk, sekalipun terasa lebih tegas, tetap Matcha Latte saya tidak kehilangkan tekstur aslinya yang halus dan stabil. saya berterima kasih kepada rasa vanilla yang menjadi penyeimbang minuman hijau ini. dia penting, sekalipun bukan pemeran utama. 

whisking Matcha dengan bamboo chasen memang sebuah hal yang sangat menarik, apalagi jika terekam kamera dan disaksikan di layar social media. tetapi, Matcha saya bukanlah pertunjukan, melainkan sebuah konsistensi yang ingin saya dapatkan setiap hari. 

ia tidak agresif seperti kopi, lebih seperti refleksi yang berasal dari ketenangan yang strategis ; tau kapan harus menunggu, tepat sasaran ketika bergerak, dan tidak terburu-buru dalam meminta jawaban dari do'a-do'a. 

saya yakin Matcha saya bukanlah sebuah minuman yang disukai semua orang. tetapi begitulah hidup yang seharusnya kita jalani ; ia tidak memaksa untuk disukai. 

mungkin butuh lidah yang sabar, dan mungkin juga.. ia butuh jiwa yang tidak tergesa. 

Matcha saya bukanlah sekedar minuman, ia adalah sebuah rasa yang saya cari untuk ketenangan dalam setiap keputusan yang saya buat, setiap hari.


dunia boleh bising, tapi saya hanya butuh kamu. dan itu cukup. 




Friday, 27 February 2026
XOXO, 



Fatimah.