hari itu Kuala Lumpur lagi ngga' panas-panas banget dan cuaca siang itu juga sedang tidak labil. saya sudah antisipasi sih sama Faizah kalo cuaca Kuala Lumpur yang emang terkenal labil itu bikin kita pusing, kita ke mall aja.
ngga' usah ke taman, ngga' usah ke CT (Chinatown) dan ngga' usah ngide foto foto outdoor. cukup ke Eslite, atau ke BookXcess, dan kemudian duduk sampe bego di coffee shop sambil baca buku.
tapi Alhamdulillah hari itu cuaca cukup bagus. jadi, dari stasiun MRT Pasar Seni, kami cukup berjalan kaki menuju Niko Neko yang terletak di Jl. Tun H S Lee No. 181.
tapi Alhamdulillah hari itu cuaca cukup bagus. jadi, dari stasiun MRT Pasar Seni, kami cukup berjalan kaki menuju Niko Neko yang terletak di Jl. Tun H S Lee No. 181.
Niko Neko Matcha 2.0 / Chinatown terletak di sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, dengan panjang antrian yang tidak sampai bikin kami memutuskan untuk undur diri. (keputusan undur diri karena liat antrian ini biasa terjadi di MUJI Vivo City Singapura, btw)
kami harus menunggu sampai ada tempat kosong di dalam, kemudian kami akan dipersilahkan masuk. Alhamdulillah kami tidak perlu menunggu terlalu lama karena sudah ada tempat kosong yang bisa diisi oleh 2 orang.
di Bontang, kota tempat di mana saya tinggal, tidak ada Matcha House/Tea House yang bisa saya kunjungi sebagai third place/tempat saya bisa bersembunyi sebentar untuk decompressed, tempat di mana saya bisa mengatur emosi saya sendiri agar tidak menyebar kepada orang-orang yang saya sayang yang ada di dalam rumah.
Matcha Latte dengan grade Ceremonial di Bontang dijual dengan sistem on demand/delivery, yang selain harganya bikin saya kaget (dan tertera dalam rupiah) untuk segelas minuman, saya harus minum di kantor/di rumah. karena yah emang mau dikirim ke alamat mana yekan.
di dalam interior yang sangat clean dan presisi itu kami berdua didampingi dan duduk di tempat yang dipersilahkan, kemudian dipandu dengan sabar untuk melakukan pemesanan. tidak ada suara dari mesin ratusan juta khas coffee shop, tidak ada suara keras dari pembicaraan yang berasal dari orang orang yang hadir di sana, dan tidak ada pemandangan yang paling menarik selain meja bar yang berukuran cukup besar di mana beberapa artisan sibuk dengan electric whisk + chasen bambu masing-masing. semuanya sibuk membuat berbagai minuman hijau yang dipesan tanpa henti.
ruangan yang didominasi warna putih itu juga memiliki sebuah rak yang tidak terlalu besar di dekat pintu keluar, yang berisi barang barang terkait minuman yang terasa sangat celestal ini. seperti Matcha Powder dalam berbagai ukuran, Bamboo Chasen, Mug, Tumbler & tentu saja ; Electric Whisk yang masih saya incer.
hari itu, saya memesan Ajisai / Matcha Latte dengan Oat Milk, with iced, seharga RM 14.
ternyata, harus lewat imigrasi dulu untuk bisa dapet Matcha Latte grade Ceremonial dengan harga yang masuk akal.
Niko Neko Matcha memiliki 3 jenis milk yang bisa dipilih : fresh, soy & oat. boleh pilih juga mau disajikan dengan hot/iced. dan semua menu yang ada di sini dijual dengan harga paling mahal RM 19.
untuk experience semahal itu, saya cukup kaget Niko Neko membandrol harga semurah itu.
selalu ada sister/brother yang sedang tidak berada di balik meja bar, dan mereka dengan senang hati memberi jawaban jika kita memiliki pertanyaan terkait Matcha. and yes, they speak the perfect english.
saya memutuskan untuk bertanya banyak tentang how to whisk matcha, how to make Matcha like them, because i never learn about Matcha properly mengigat basic saya untuk bikin minuman itu adalah barista skills, bukan Matcha Artisan.
dan saya juga sudah mulai jengkel uang jajan harian saya banyak habis buat beli Matcha on Demand yang hampir selalu saya minum di kantor itu.
she smile, very genuine smile. and she answer every questions patiently.
every.single.question.
and to wrapping up.. she told me,
"do what feels comfortable to you - about the ratio, about the technique, and the recipe. and of course, you have to make sure that you love the taste of your own Matcha Latte"
i'm freezing for a while.
it just.. wow.
di social media, terlalu banyak content video tentang Matcha, semua video itu aesthetic, tetapi terlalu sulit untuk saya pahami. but at that moment, i realize that she told me the very basic term ; yang penting saya nyaman bikin Matcha-nya, yang penting rasa Matcha saya enak dan saya suka sama rasanya. because Matcha is the kind of beverage that i saved for my ownself, bahkan di Cafe Santai saya ngga' jual Matcha karena di sana jurusannya kopi Nanyang, kaya toast sama pisang goreng.
sejak tahun lalu, saya udah ngga' minum fresh milk lagi, dan sejak saya sudah sangat sangat kurang tidur (because of consulting peak season workload, of course) saya udah ngga' minum kopi lagi setiap pagi. so the only caffeine intake that i consume is just Matcha. less drama, no more sleepless night, diminum setelah jam makan siang. di kantor. #Tetep
bagi saya, Matcha Latte dengan grade ceremonial, yang saya tambahkan sedikit rasa vanilla, di-whisk dengan metode cold whisk & menggunakan electric whick, bukanlah sekedar minuman. ia adalah ruang hening yang bisa saya minum.
dan dengan cara yang aneh, ia hadir dengan warna hijau yang tidak perlu berteriak, dan tidak perlu meminta izin untuk mendapat perhatian. seperti sebuah karakter yang matang ; lembut di permukaan, tegas di struktur.
and yes, i made my own structure for my own Matcha Latte.
saya menyukai Matcha dengan rasio presisi — tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit. kadang saya menambahkan beberapa mililiter espresso untuk mendapatkan structure rasa yang lebih firm.
dengan tetap menggunakan oat milk, sekalipun terasa lebih tegas, tetap Matcha Latte saya tidak kehilangkan tekstur aslinya yang halus dan stabil. saya berterima kasih kepada rasa vanilla yang menjadi penyeimbang minuman hijau ini. dia penting, sekalipun bukan pemeran utama.
whisking Matcha dengan bamboo chasen memang sebuah hal yang sangat menarik, apalagi jika terekam kamera dan disaksikan di layar social media. tetapi, Matcha saya bukanlah pertunjukan, melainkan sebuah konsistensi yang ingin saya dapatkan setiap hari.
ia tidak agresif seperti kopi, lebih seperti refleksi yang berasal dari ketenangan yang strategis ; tau kapan harus menunggu, tepat sasaran ketika bergerak, dan tidak terburu-buru dalam meminta jawaban dari do'a-do'a.
saya yakin Matcha saya bukanlah sebuah minuman yang disukai semua orang. tetapi begitulah hidup yang seharusnya kita jalani ; ia tidak memaksa untuk disukai.
mungkin butuh lidah yang sabar, dan mungkin juga.. ia butuh jiwa yang tidak tergesa.
Matcha saya bukanlah sekedar minuman, ia adalah sebuah rasa yang saya cari untuk ketenangan dalam setiap keputusan yang saya buat, setiap hari.
dunia boleh bising, tapi saya hanya butuh kamu. dan itu cukup.
XOXO,
Fatimah.



