Friday, February 27, 2026

Niko Neko Matcha 2.0 / Chinatown, Kuala Lumpur


hari itu Kuala Lumpur lagi ngga' panas-panas banget dan cuaca siang itu juga sedang tidak labil. saya sudah antisipasi sih sama Faizah kalo cuaca Kuala Lumpur yang emang terkenal labil itu bikin kita pusing, kita ke mall aja. 

ngga' usah ke taman, ngga' usah ke CT (Chinatown) dan ngga' usah ngide foto foto outdoor. cukup ke Eslite, atau ke BookXcess, dan kemudian duduk sampe bego di coffee shop sambil baca buku.

tapi Alhamdulillah hari itu cuaca cukup bagus. jadi, dari stasiun MRT Pasar Seni, kami cukup berjalan kaki menuju Niko Neko yang terletak di Jl. Tun H S Lee No. 181. 

Niko Neko Matcha 2.0 / Chinatown terletak di sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, dengan panjang antrian yang tidak sampai bikin kami memutuskan untuk undur diri. (keputusan undur diri karena liat antrian ini biasa terjadi di MUJI Vivo City Singapura, btw

kami harus menunggu sampai ada tempat kosong di dalam, kemudian kami akan dipersilahkan masuk. Alhamdulillah kami tidak perlu menunggu terlalu lama karena sudah ada tempat kosong yang bisa diisi oleh 2 orang. 

di Bontang, kota tempat di mana saya tinggal, tidak ada Matcha House/Tea House yang bisa saya kunjungi sebagai third place/tempat saya bisa bersembunyi sebentar untuk decompressed, tempat di mana saya bisa mengatur emosi saya sendiri agar tidak menyebar kepada orang-orang yang saya sayang yang ada di dalam rumah. 

Matcha Latte dengan grade Ceremonial di Bontang dijual dengan sistem on demand/delivery, yang selain harganya bikin saya kaget (dan tertera dalam rupiah) untuk segelas minuman, saya harus minum di kantor/di rumah. karena yah emang mau dikirim ke alamat mana yekan.

di dalam interior yang sangat clean dan presisi itu kami berdua didampingi dan duduk di tempat yang dipersilahkan, kemudian dipandu dengan sabar untuk melakukan pemesanan. tidak ada suara dari mesin ratusan juta khas coffee shop, tidak ada suara keras dari pembicaraan yang berasal dari orang orang yang hadir di sana, dan tidak ada pemandangan yang paling menarik selain meja bar yang berukuran cukup besar di mana beberapa artisan sibuk dengan electric whiskchasen bambu masing-masing. semuanya sibuk membuat berbagai minuman hijau yang dipesan tanpa henti. 

ruangan yang didominasi warna putih itu juga memiliki sebuah rak yang tidak terlalu besar di dekat pintu keluar, yang berisi barang barang terkait minuman yang terasa sangat celestal ini. seperti Matcha Powder dalam berbagai ukuran, Bamboo Chasen, Mug, Tumbler & tentu saja ; Electric Whisk yang masih saya incer. 

hari itu, saya memesan Ajisai / Matcha Latte dengan Oat Milk, with iced, seharga RM 14. 

ternyata, harus lewat imigrasi dulu untuk bisa dapet Matcha Latte grade Ceremonial dengan harga yang masuk akal. 


Niko Neko Matcha memiliki 3 jenis milk yang bisa dipilih : fresh, soy & oat. boleh pilih juga mau disajikan dengan hot/iced. dan semua menu yang ada di sini dijual dengan harga paling mahal RM 19.

untuk experience semahal itu, saya cukup kaget Niko Neko membandrol harga semurah itu. 

selalu ada sister/brother yang sedang tidak berada di balik meja bar, dan mereka dengan senang hati memberi jawaban jika kita memiliki pertanyaan terkait Matcha. and yes, they speak the perfect english. 

saya memutuskan untuk bertanya banyak tentang how to whisk matcha, how to make Matcha like them, because i never learn about Matcha properly mengigat basic saya untuk bikin minuman itu adalah barista skills, bukan Matcha Artisan. 

dan saya juga sudah mulai jengkel uang jajan harian saya banyak habis buat beli Matcha on Demand yang hampir selalu saya minum di kantor itu.

she smile, very genuine smile. and she answer every questions patiently. 
every.single.question. 
 and to wrapping up.. she told me, 
"do what feels comfortable to you - about the ratio, about the technique, and the recipe. and of course, you have to make sure that you love the taste of your own Matcha Latte"
i'm freezing for a while.
 it just.. wow. 

di social media, terlalu banyak content video tentang Matcha, semua video itu aesthetic, tetapi terlalu sulit untuk saya pahami. but at that moment, i realize that she told me the very basic term ; yang penting saya nyaman bikin Matcha-nya, yang penting rasa Matcha saya enak dan saya suka sama rasanya. because Matcha is the kind of beverage that i saved for my ownself, bahkan di Cafe Santai saya ngga' jual Matcha karena di sana jurusannya kopi Nanyang, kaya toast sama pisang goreng. 

sejak tahun lalu, saya udah ngga' minum fresh milk lagi, dan sejak saya sudah sangat sangat kurang tidur (because of consulting peak season workload, of course) saya udah ngga' minum kopi lagi setiap pagi. so the only caffeine intake that i consume is just Matcha. less drama, no more sleepless night, diminum setelah jam makan siang. di kantor. #Tetep

bagi saya, Matcha Latte dengan grade ceremonial, yang saya tambahkan sedikit rasa vanilla, di-whisk dengan metode cold whisk & menggunakan electric whick, bukanlah sekedar minuman. ia adalah ruang hening yang bisa saya minum.

dan dengan cara yang aneh, ia hadir dengan warna hijau yang tidak perlu berteriak, dan tidak perlu meminta izin untuk mendapat perhatian. seperti sebuah karakter yang matang ; lembut di permukaan, tegas di struktur. 

and yes, i made my own structure for my own Matcha Latte. 

saya menyukai Matcha dengan rasio presisi tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit. kadang saya menambahkan beberapa mililiter espresso untuk mendapatkan structure rasa yang lebih firm. 

dengan tetap menggunakan oat milk, sekalipun terasa lebih tegas, tetap Matcha Latte saya tidak kehilangkan tekstur aslinya yang halus dan stabil. saya berterima kasih kepada rasa vanilla yang menjadi penyeimbang minuman hijau ini. dia penting, sekalipun bukan pemeran utama. 

whisking Matcha dengan bamboo chasen memang sebuah hal yang sangat menarik, apalagi jika terekam kamera dan disaksikan di layar social media. tetapi, Matcha saya bukanlah pertunjukan, melainkan sebuah konsistensi yang ingin saya dapatkan setiap hari. 

ia tidak agresif seperti kopi, lebih seperti refleksi yang berasal dari ketenangan yang strategis ; tau kapan harus menunggu, tepat sasaran ketika bergerak, dan tidak terburu-buru dalam meminta jawaban dari do'a-do'a. 

saya yakin Matcha saya bukanlah sebuah minuman yang disukai semua orang. tetapi begitulah hidup yang seharusnya kita jalani ; ia tidak memaksa untuk disukai. 

mungkin butuh lidah yang sabar, dan mungkin juga.. ia butuh jiwa yang tidak tergesa. 

Matcha saya bukanlah sekedar minuman, ia adalah sebuah rasa yang saya cari untuk ketenangan dalam setiap keputusan yang saya buat, setiap hari.


dunia boleh bising, tapi saya hanya butuh kamu. dan itu cukup. 




XOXO, 



Fatimah. 




 

Wednesday, February 25, 2026

cerita cerita kenapa lama tidak menulis cerita



Februari 2023 adalah tahun pertama saya keluar negeri tidak bersama orang tua. sepasang anak kembar ini sudah meyelesaikan sekolahnya, bekerja di perusahaan keluarga, dan setelah perusahaan mulai mencetak profit yang baik dan kami berdua sudah mengumpulkan cukup uang, kami memutuskan untuk memulai perjalanan rutin ke luar negeri berdua.

dengan modal research berminggu-minggu dan sedikit pengalaman diajak orang tua berada di beberapa negara, di 2023 itu kami melakukan segalanya berdua. mulai dari mem-booking tiket pesawat, memilih hotel, menyelesaikan pembayaran, mempelajari sistem transportasi, membeli kebutuhan selama di negara tersebut (seperti sim card & transportation card yang bisa dibeli di e-commerce di Indonesia) mempelajari daerah, mencari tau makanan halal, belajar mendalam atas banyak peraturan (peraturan negara, negara tujuan, imigrasi, aviation, Airlines, etc) sampai membuat itinerary yang sangat personal yang menyesuaikan budget, durasi tinggal dan apa yang kami inginkan selama berada di negara tujuan.

hari yang kami tunggu akhirnya tiba. untuk pertama kalinya kami harus melakukan segala prosesnya berdua. mulai dari check-in, masuk lounge dan bayar sendiri, time keeping untuk ke imigrasi, menjawab pertanyaan di imigrasi dan menjalani penerbangan internasional kami untuk pertama kalinya, tidak bersama orang tua. 

and we did it! we landed safely in Changi Airport. hari itu, aroma bandara yang menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi Singapura itu masih jelas di ingatan saya. Jewel Changi Airport yang dibicarakan orang orang menjadi tujuan pertama kami di Singapura setelah kami selesai makan hainanese chicken rice halal di staff canteen T1, tempat di mana singapore national dish yang masih berusaha saya replicate untuk dapat rasa yang sama sampai hari ini. 

YAH IN SHORT SAYA MASIH BELUM BERHASIL BIKIN YANG SEENAK ITU. 

hahaha :)


perjalanan pertama, 
dan perjalanan - perjalanan setelahnya. 

Kuala Lumpur, Pulau Pinang, sampai Hong Kong di pinggir laut Asia Timur. tidak termasuk perjalanan ke Singapura setiap bulan Januari. 

yang tidak pernah ada ceritanya. 



i don't know at the first, and now i found the why. 

the slow-burn love, old-fashioned and gentle. the kind of love that i chooses every day.

because i do photograph in traditional way. 

-

fotografi bagi saya itu intentional, dan harus dengan kamera. bisa di-setting dari awal biar hasilnya cakep, dan masih bisa di-edit dengan lightroom & pixelmator pro biar makin cakep. tipikal hasil karya yang bisa saya pandang-pandang dan saya sayang-sayang. 

sedangkan mengambil gambar dengan smartphone itu bagi saya occasional.. karena isi gallery smartphone saya kebanyakan bukti transfer. saya masih belum menemukan cara bagaimana cara mengurai cerita dari sebuah foto yang diambil dengan kamera yang sama dengan foto dokumentasi nota - nota. 

iya, yang moto-nya kudu pakai microsoft lens itu. (biar rapi ceunah)

antara old-fashioned atau emang saya sesuka itu sama fotografi, atau ya sesederhana saya udah pro aja, intinya kalo takes photograph, saya harus pake camera. titik. karena ketika menulis cerita, saya butuh nuansa. saya harus bisa kembali kepada suasana di mana saya berada di sana. dan sejauh ini belum saya temukan smartphone yang mampu memberi saya feel tersebut.

karena fotografi adalah cara saya bercerita, dan kata-kata adalah cara saya membekukan waktu. cara yang paling sunyi, tapi paling saya sukai. 

jadilah, saya membeli kamera fujifilm mirrorless ini setahun yang lalu sebelum saya berangkat ke Hong Kong. bukan kamera termahal yang pernah ada, tetapi ini yang paling mahal yang pernah saya punya. 

dan ajaibnya, hanya karena saya sudah tau kenapanya, bukan artinya milik saya ini hadir tanpa drama.    


habis landing, hampir tengah malam, dan entah punya tenaga dari mana kami (waktu itu saya & Faizah berangkat bersama Annisa) memutuskan untuk foto-foto dan cari makan di Lau Pa Sat. sebuah keputusan yang cukup konyol di tahap pemikiran karena untuk menuju Lau Pa Sat yang dekat Raffles Place itu tentu memakan waktu yang lumayan mengingat kami berangkat dari Joo Chiat, naik bus. jadilah sampai di Lau Pa Sat, tentu saja sate yang kita mau sudah habis, tapi malam itu saya dapet foto Lau Pa Sat saat malam hari yang cakep banget. 


setelah dirasa selesai muter muter Lau Pa Sat, kami naik bus dan turun di dekat MBS. kali ini, kami kami ingin jalan jalan di Olympic Walk. my ultimate favorites place in Singapore. 

gimana enggak? decking floor luas berwarna cokelat solid, beberapa bench yang bisa dipakai tidur - tiduran, building lights yang membentang dan terasa seperti bintang - bintang, suspended bridge handrail yang memberi kontras kepada decking floor dengan cermat, dan itu semua berpadu sempurna dengan wangi laut tenang di hadapan.. dan ketika dihirup, wangi laut itu tidak kehilangan kemampuannya untuk mengusir sesak yang ternyata bisa bersembunyi di dalam dada manusia. 

oh iya, sudahkah pernah saya cerita bahwa hal yang paling saya sukai di dunia ini adalah berjalan kaki saat malam hari di Singapura? :)


dan malam itu juga, kamera saya tidak bisa digunakan. keterangannya sih card error ya. tapi saya langsung panik dong. besok flight pagi, dan saya belum pernah ke Hong Kong sebelumnya. jadi ngga' tau deh di mana fujifilm service centre terdekat dari tempat kami tinggal. kalo masih punya waktu di Singapore di hari kerja dan di jam kerja sudah pasti saya dengan yakin menuju Suntec City. nah kali ini lain cerita. apalagi waktu landing di HKIA, alih-alih koper koper kami yang muncul, malah muncul sebuah tulisan besar yang intinya Ms. Faizah Riffat dimohon untuk menghubungi ground crew, dan intinya kami diomongi baik-baik kalo bagasi kami ketinggalan di Singapore dan akan diterbangkan dengan pesawat jam 4 sore. saat itu Hong Kong masih jam 12 siang, tapi lagi Spring (baru kelar winter) dan baju saya tipis banget. kedinginan, kebingungan dan sungguhlah ngurus bagasi + ngurus insurance itu benar benar sudah menguras energi kami. 

bagasi kami akhirnya diantar oleh pihak singapore airlines pada malam hari ke depan gedung apartment kami di Causeway Bay. tapi yah mana punya tenaga lagi kita kan nyari di mana fujifilm service centre terdekat dan berangkat ke sana malam itu juga. jadilah malam itu kami hanya bisa menunggu dengan dengan keinginan super sederhana : segera mandi air hangat, ganti baju yang lebih tebal dan minum tolak angin. karena pilihan berangkat ke Toko Indonesia di Wan Chai untuk membeli tolak angin di cuaca sedingin itu bukan sesuatu yang kami sanggupi.

jadi, selama di Hong Kong, saya ngga' bisa pake kamera sama sekali. setelah nyampe Bontang baru deh saya bisa urus itu kamera. mulai dari tanya-tanya ke temen-temen saya yang emang udah pake fuji lebih dulu untuk tanya-tanya apa masalahnya kamera saya, menemukan solusi dan mengatasinya. 

dan sekarang kamera saya udah bener lagi. saya mulai moto-moto lagi, tapi belum banyak fotonya. 

so, this is me unfold my story..
thank you for reading and see you in next post!


XOXO, 


Fatimah